Minggu, 12 Mei 2013

keperawatan keluarga


KEPERAWATAN KELUARGA





PENGERTIAN
Pengertian Keluarga
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dimana individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Marilyn M. Friedman). Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran dan mempertahankan budaya yang umum. Meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan social dari tiap anggota (Duvall).
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya).
Dari beberapa pengertian tentang keluarga maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :
1.      Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.
2.      Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika berpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain.
3.      Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial : suami, istri, anak, kakak, adik.
4.      Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota.

FUNGSI
Fungsi keperawatan keluarga yang umumnya dilakukan oleh peran perawat

. Beban Kasus Keluarga
Beban kasus keluarga (family care Load) adalah jumlah macam kasus dalam keluarga yang dipelihara / dibina oleh seorang perawat dalam jangka waktu tertentu. Pada umumnya keluarga yang ditangani oleh perawat adalah keluarga yang mempunyai masalah dan kebanyakan keluarga ini adalah keluarga dengan penghasilan yang rendah. Hal ini dapat dimengerti karena kebutuha akan pelayanan dan bimbingan perawatan lebih tinggi pada kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah.
a.       Tugas Kesehatan Keluarga
         Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga. Ini ada hubunganya dengan kesanggupan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan pada setiap anggota keluarga.
         Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat
         Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, yang tidak dapat membantu diri karena cacat atau usianya terlalu muda
          Memodifikasi lingkungan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
         Merujuk anggota keluarga ke fasilitas kesehatan
b.      Peran Perawat Keluarga
         Pendidik
Perawat perlu melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar:
1)      Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan secara mandiri.
2)      Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga.
         Coordinator
Koordinasi diperlaukan pada perawatan agar pelayanan komprehensive dapat dicapai. Koordinasi juga diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan.
         Pelaksana
Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada klien dan keluarga dengan menggunakan metode keperawatan.
         Pengawasa kesehatan
Sebagai pengawas kesehatan harus melaksanakan home visite yang teratur untuk mengidentifikasi dan melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.
         Advokat
Perawat sebagai nara sumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, hubungan perawat dan klien harus terbina dengan baik, kemampuan perawat dalam menyampaikan informasi dan kialitas dari informasi yang disampaikan secara terbuka dan dapat dipercaya.
         Kolaborasi
Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan anggota tim kesehatan lain untuk mencapai kesehatan keluarga yang optimal.
         Fasilitator
Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti masalah sosial ekonomi, sehingga perawat harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan seperti rujukan dan penggunaan dana sehat.
         Peneliti
Menemukan dan mengidentifikasi masalah secara dini di masyarakat sehingga menghindarkan dari ledakan kasus atau wabah
         Modifikasi lingkungan
Mampu memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun masyarakat agar tercipta lingkungan yang sehat.
c.       Tingkat kemandirian keluarga (Depkes, 2006)
1.      Keluarga Mandiri Tingkat I
         Menerima petugas perawatan kesehatan.
         Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan.
2.      Keluarga mandiri Tingkat II
         Menerima petugas perawatan kesehatan.
         Menerima pelayanan keperawatan yang dibrikan sesuai dengan rencana keperawatan
         Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar
         Melakuka perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan
3.      Keluarga Mandiri Tingkat III
         Menerima petugas perawatan kesehatan
         Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan
         Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar
         Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang di anjurkan
         Memanfaatkan fasilitas yankes secara aktif
         Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif
4.      Keluarga Mandiri Tingkat IV
         Menerima petugas perawatan kesehatan
         Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan
         Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar
         Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan
         Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif
         Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif
         Melaksanakan tindakan promotif secara aktif

PENGAPLIKASIAN
 
Tipe Keluarga
Menurut Sussman dan maclin dalam effendi terbagi kepada :
1.      Tradisional
         Kelurga inti / nuclear family (ayah, ibu dan anak)
         Pasangan inti (suami dan istri saja)
         Keluarga dengan orang tua tunggal
         Kelurga besar yang mencakup tiga generasi
         Pasangan usia pertengahan atau pasangan lanjut usia
         Jaringan keluarga besar
2.      Non Tradisional
         Pasangan yang memiliki anak tanpa menikah
         Pasangan yang hidup bersama tanpa menikah
         Keluarga homoseksual
         Keluarga komuni ( keluarga dengan lebih dari 1 pasang monogamy dengan anak – anak secara bersama –sama menggunakan fasilitas serta sumber – sumber yang ada).

Tugas
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:[rujukan?]
Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
Sosialisasi antar anggota keluarga.
Pengaturan jumlah anggota keluarga.
Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

Bentuk keluarga
Ada dua macam bentuk keluarga dilihat dari bagaimana keputusan diambil, yaitu berdasarkan lokasi dan berdasarkan pola otoritas [7].
a.       Berdasarkan lokasi :
1.      Adat utrolokal, yaitu adat yang memberi kebebasan kepada sepasang suami istri untuk memilih tempat tinggal, baik itu di sekitar kediaman kaum kerabat suami ataupun di sekitar kediamanan kaum kerabat istri;
2.      Adat virilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri diharuskan menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami;
3.      Adat uxurilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri harus tinggal di sekitar kediaman kaum kerabat istri;
4.      Adat bilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri dapat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami pada masa tertentu, dan di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri pada masa tertentu pula (bergantian);
5.      Adat neolokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri dapat menempati tempat yang baru, dalam arti kata tidak berkelompok bersama kaum kerabat suami maupun istri;
6.      Adat avunkulokal, yaitu adat yang mengharuskan sepasang suami istri untuk menetap di sekitar tempat kediaman saudara laki-laki ibu (avunculus) dari pihak suami;
7.      Adat natalokal, yaitu adat yang menentukan bahwa suami dan istri masing-masing hidup terpisah, dan masing-masing dari mereka juga tinggal di sekitar pusat kaum kerabatnya sendiri .
b.      Berdasarkan pola otoritas :
1.      Patriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh laki-laki (laki-laki tertua, umumnya ayah)
2.      Matriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh perempuan (perempuan tertua, umumnya ibu)
3.      Equalitarian, yakni suami dan istri berbagi otoritas secara seimbang.
Subsistem sosial
Terdapat tiga jenis subsistem dalam keluarga, yakni subsistem suami-istri, subsistem orang tua-anak, dan subsitem sibling (kakak-adik).[8] Subsistem suami-istri terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan yang hidup bersama dengan tujuan eksplisit dalam membangun keluarga.[8] Pasangan ini menyediakan dukungan mutual satu dengan yang lain dan membangun sebuah ikatan yang melindungi subsistem tersebut dari gangguan yang ditimbulkan oleh kepentingan maupun kebutuhan darti subsistem-subsistem lain.[8] Subsistem orang tua-anak terbentuk sejak kelahiran seorang anak dalam keluarga, subsistem ini meliputi transfer nilai dan pengetahuan dan pengenalan akan tanggungjawab terkait dengan relasi orang tua dan anak.[8]
Peran Formal Keluarga (Efendi, 2009)
1.      Peran sebagai ayah
Ayah sebagai suami dan ayah dari anak –anak berperan mencari nafkah, pendidikan, pelindung, dan memberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, anggota kelompok sosial, serta anggoat masyarakat danlingkungan.
2.      Peran sebagai ibu
Ibu sebagai istri dan ibu dari anak – anaknya berperan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh, pendidik, pelindung dan salah satu anggota keluarga sosial serta sebagai masyarakat dan lingkungan. Disamping itu dapat berperan pula sebagai pencari nafkah tambahan keluarga.
3.      Peran sebagai anak
Anak melaksanakan peran psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisisk, mental, sosial dan spiritual.

Fungsi Keluarga
Menurut friedmen (1999) dalam effendi (2009), yaitu :
         Fungsi Afektif (Affective function)
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan keluarga. Berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat mengembangkan konsep diri yang positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam memenuhi fungsi afektif adalah:
a.       Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga. Setiap anggota yang mendapatkan kasih sayang dang dukungan dari anggota yang lain maka kemampuannya untuk memberikan kasih sayang akan meningkat yang pada akhiranya tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal dasar dalam memberi hubungan dengan orang lain diliar keluarga atau masyarakat.
b.      Saling menghargai, bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim yang positif maka fungsi afektif akan tercapai.
c.       Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tuan harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat meniru perilaku yang positif tersebut
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga timbul karena fungsi afektif keluarga tidak terpenuhi.
         Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social placement function)
a.       Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial (Friedman, 1986)
b.      Sosialisasi dimulai sejak lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan keluarga.
         Fungsi reproduksi (Reproductive Function)
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
         Fungsi Ekonomi ( Economic Function)
Funsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga, seperti kebutuhan makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya.
         Fungsi Perawatan atau pemeliharaan kesehatan (Health Care Function)
Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan/atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga.

Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut (Friedman, 1998
a.       Mengenal masalah
b.      Membuat keputusan tindakan yang tepat
c.       Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit
d.      Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
e.      Mempertahankan hubungan dengan fasilitas kesehatan masyarakat.

Ciri Struktur Keluarga
         Terorganisir : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga
         Ada keterbatasan : setiap anggota keluarga memerlukan kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dan menjalankan fungsi tugasnya masing-masing.
         Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.

 Nilai – Nilai Keluarga
Nilai merupakan suatu system, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga meruapakan suatu pedoman perilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.
Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat berdasarkan system nilai dalam keluarga.
Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelasaikan masalah.

Sistem Keluarga
         Komponen            : Dalam suatu keluarga masing – masing anggota mempunyai sifat interdependensi, interaktif dan mutual.
         Batasan     : Dalam suatu keluarga pasti adanya batasan (filter)yang digunakan untuk menyeleksi informasi yang masuk dan yang keluar. Batasan masing – masing keluarga akan berbeda ttergantung dari beberapa factor seperti             : sosial, budaya, ekonomi dan lain – lain.
         Keberadaan           : keluarga merupakan bagian dari system yang lebih luas yaitu masyarakat.
         Terbuka (Batas yang permeable) dimana didalam keluarga terjadi pertukaran antar system.
         Mempunyai           : Masing – masing keluarga mempunyai organisasi / struktur yang akan mempengaruhi fungsi yang ada dari anggotanya.

Tahapan Keluarga
1.      Tahap I. Pasangan Baru (Keluarga Baru)
         Membina hubungan intim yang memuaskan
         Membiana hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial.
         Mendiskusikan rencana memilki anak
2.      Tahap II. Keluarga “Child bearing” (Kelahiran anak Pertama
         Persiapan menjadi orang tua
         Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga : peran, interaksi, hubungan seksual dan kegiatan.
         Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3.      Tahap III. Kelurga dengan anak Prasekolah
         Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman.
         Membantu anak untuk bersosialisasi
         Beradaptasi dengan anak yang baru lahir sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.
         Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun diluar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).
         Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot).
         Pembagian tanggung jawab anggota keluarga kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak.
4.      Tahap IV. Keluarga Dengan Anak Sekolah
         Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekoalah dan lingkungan.
         Mempertahankan keintiman pasangan
         Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
5.      Tahap V. Keluarga Dengan Anak Remaja
         Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya
         Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga
         Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang. Hindari perdebatan, permusuhan dan kecurigaan.
         Perubahan system peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga
6.      Tahap VI. Keluarga Dengan Anak Dewasa (Pelepasan)
         Memperluas keluarga inti menjasi keluarga besar
         Mempertahankan keintiman pasangan
         Membantu orang tua suami / istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua
         Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
         Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
7.      Tahap VII. Keluarga Usia Lanjut
         Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
         Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan
         Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat
         Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
         Melakukan life review.

 Perawatan Kesehatan Keluarga
Perawatan kesehatan keluarga (family Health Nursing) adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuannya dan melalui perawatan sebagai sebagai sarannya. Dalam perawatan kesehatan masyarakat, yang menerima perawatan dibagi 3 tingkat, yaitu : tingkat individu, tingkat family atau keluarga dan tingkat community atau masyarakat.

Keluarga Sebagai Pasien Atau Unit Pelayanan Perawatan
    Keluarga adalah unit utama dari masyarakat dan merupakan lembag yang menyangkut kehidupan masyarakat
    Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan, atau memperbaiki masalah – masalah kesehatan yang ada dalam kelompoknya itu sendiri.
        Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan
    Dalam memelihara pasien sebagai individu, keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam pemeliharaanya
    Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagai usaha – usaha kesehatan masyarakat
Kesimpulan
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran dan mempertahankan budaya yang umum. Meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan social dari tiap anggota (Duvall).
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar